ISD

Anggota Kelompok 8:
Adellia Rahmayanti(50418129)
Deliva Titu Mardien(51418725)
Muhammad Azis(54418509)
Septian Dwi Susanto(56418600)
Vidia Sulestyawati(57418229)


  

Pengaruh Narsistik Terhadap Kehidupan Sosial


Klaim sebelumnya yang mengatakan Dwi jebolan Tokyo Institute Technology Jepang yang merancang wahana peluncur satelit untuk Kementerian Pertahanan Belanda dan mengerjakan proyek strategis Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), seluruhnya bohong.
Dia pun tidak pernah menyabet juara di lomba riset antar badan antariksa di Jerman dan tidak pernah diajak bertemu oleh mantan Presiden BJ Habibie.
Faktanya, Dwi lulus dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta pada 15 November 2005. Seperti dikutip Tempo, Rektor AKPRIND, Amir Hamzah mengatakan Dwi lulus dengan predikat cum laude, menyandang predikat lulusan terbaik, dan punya indeks prestasi kumulatif 3,88. Kini dia sedang menyelesaikan program doktoral dalam kelompok riset intelijensi interaktif, dan bukan sebagai asisten profesor seperti yang dibualkan.
Menurut Dwi, dua pekan terakhir pihak universitas TU Delft menggelar rangkaian sidang kode etik terhadap dirinya. Sampai klarifikasi ditulis, universitas masih dalam proses pengambilan sikap.
''Prestasinya lumayan ya, tanpa dia harus berbohong dia sebenarnya oke juga loh. Sayangnya dia melebih-lebihkan dan melakukannya secara sengaja,'' kata Koordinator Gerakan Bijak Bersosmed, Enda Nasution.
''Itu mungkin yang tidak bisa dimaafkan.''
'Sindrom minder'
''Saya melihat kayaknya ada kerinduan yang sangat tinggi untuk mendapatkan informasi yang positif tentang Indonesia. Sehingga kalau ada prestasi-prestasi orang Indonesia di luar negeri, kita jadi hiper-heboh,'' kata dia.
''Bahkan ada orang Indonesia masuk jadi marinir saja di Amerika Serikat, kayaknya buat kita sudah menjadi sebuah berita.''
Enda melihatnya sebagai 'sindrom minder', akibat merasa kurang percaya diri saat dibandingkan dengan negara lain.
''Saya melihatnya ini bukan fenomena, tapi sindrom mindernya yang masih ada. Kita merasa kurang percaya diri kalau dibandingkan dengan negara lain, seolah-olah kalau ada sesuatu yang datang dari negara lain atau sesuatu yang punya prestasi di negara lain menjadi suatu yang perlu. Tidak salah sih, tidak salah banget. Cuma jangan juga sampai buta,'' kata dia.
Di era medsos, lanjut dia, mudah sekali 'menyampaikan sesuatu yang tidak selalu benar dan tidak selalu orisinal'. Tapi sebaliknya, zaman informasi pula yang membuat proses verifikasi jauh lebih mudah.
Sejumlah media besar yang terlanjur memberi panggung bagi kebohongan Dwi Hartanto termasuk sederet media andalan seperti Detik, Tempo, dan program Mata Najwa di Metro TV. Di program Mata Najwa misalnya, Dwi bahkan disanjung sebagai orang non-Eropa pertama yang masuk dalam lingkaran penting Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).
Enda lalu membandingkan kasus Dwi Hartanto dengan Khoirul Anwar, peneliti Indonesia yang disebut oleh media dan banyak orang sebagai penemu dan bahkan memiliki paten untuk teknologi 4G. ''Saya melihat ada benang merahnya. Untungnya Khoirul Anwar tidak menipu ya, dia betul-betul seorang peneliti dan memberi bantahan,'' kata dia.
''Saya yakin media dan orang Indonesia lain tidak punya niatan jelek untuk kemudian mendukung kebohongan Dwi Hartanto, tapi jangan juga terlalu naif untuk menerima begitu saja seolah-olah semua prestasi itu menjadi benar tanpa kita cek ulang.''
Matinya 'ruang kritik'
Enda berpendapat, di era medsos sekarang, sepatutnya segala lini cukup kritis untuk mengecek benar-tidaknya kabar yang beredar.
''Kadang hal kritis ini pun kita agak ragu mengungkapkannya karena khawatir dianggap iri atau tidak ingin melihat orang lain senang. Padahal ruang untuk kritis itu sebenarnya penting,'' kata dia.
Ruang kritis, yang menurut Enda luput oleh media yang memberikan panggung kepada Dwi Hartanto adalah memverifikasi prestasi akademisnya.
''Kritik terhadap teman media juga, prestasinya akademis itu sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dicek. Berapa banyak paper yang dia tulis, berapa kali dia dikutip oleh peneliti yang lain. Itu sebenarnya sangat mudah, bisa kita cek.''
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Johny Setiawan, dalam surat pernyataan sikapnya mengatakan bahwa kelakuan Dwi Hartanto 'membahayakan integritas akademisi'.
Dari kasus kebohongan intelektual ini, Johny mengingatkan kembali pentingnya 'kode etik penelitian'.

Topik Terkait
https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41562851





Analisis dari :
Merasa diri paling hebat

1. Merasa Diri Paling Hebat

Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat atau penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra atau image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu  bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh diri sendiri dianggap bukan suatu hal yang aneh. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.














Pengaruh Budaya Berpakaian Barat Terhadap Sosial

Secara etimologis istilah kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu budhaya yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Adapun kebudayaan menurut penyusun merupakan hasil pemikiran sekelompok masyarakat yang berkenaan dengan nilai-nilai dan adat yang berlaku.

Setiap bangsa dan Negara mempunya budaya yang beragam dan unik. Menjunjung tinggi niai kesopanan merupakan salah satu ciri dari bangsa Indonesia, baik dari tata bahasa, perilaku, gaya hidup seperti style/fashion yang telah menjadi budaya. Adapun gaya hidup khususnya gaya berpakaian orang Indonesia sangatlah sopan, mengikuti budaya timuy yaitu mayoritas berkerudung, utamanya menutup aurat atau istilah kasarnya tidak buka-bukaan, sesuai norma keagamaan dan norma kesopanan.

Pada era globalisasi ini, banyak warga Indonesia yang gaya berpakaiannya mengikuti budaya barat, tidak seharusnya diikuti seluruhnya karena budaya barat tidak sesuai dengan budaya timur. Remaja masa kini yang mendominasi gaya berpakaiannya mengikuti gaya berpakaian barat. Hubungannya dengan peradaban, kasus ini terjadi karena pengaruh dari globalisasi. Kebudayaan peradaban merupakan kesatuan yang saling berkaitan.

Pengaruh globalisasi sangat berdampak bagi kehidupan masa kini. Salah satnya terlihat dari gaya berpakaian remaja masa kini sebagai hasil imitasi dari budaya barat. Layaknya masyarakat Indonesia memfilter terlebih dahulu budaya asing yang masuk, tidak asal menerima dan mengaplikasikannya ke kehidupan sehari-hari. Masalah ini muncul juga karena beberapa factor, seperti:

pengaruh budaya asing terhadap perkembangan gaya hidup, khususnya di kota  yang memang memiliki keterbukaan terhadap budaya asing.
perkembangan teknologi yang pesat, pesatnya perkembangan IT menjadi salah satu penyebab masalah gaya hidup. Mudahnya mencari informasi membuat masyarakat bertransformasi mengubah gaya hidup mereka sesuai keinginannya agar tidak ketinggalan zaman.
Pergaulan, bagi sebagian besar remaja, teman memiliki posisi yang lebih penting daripada orang tua. Oleh karena itu muncullah suatu ketergantungan terhadap teman.
Lingkungan masyarakat, ketika satu lingkungan melaksanakan sesuatu, maka semua lingkungan tersebut cenderung akan mengikuti dan terbawa arus.
Rendaknya kesadaran akan kesopanan, diakibatkan kurangnya pengajaran dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat sehinggan menyebabkan rendahnya kesopanan dan kurangnya kedasaran dikarenakan kebiasaan lignkungan.
Kurangnya control orang tua, orang tua memiliki peran yang sangat penting untuk mengontrol sejauh mana anaknya bergaul. Banyak orang tua dari masyarakat kota yang kurang mengontrol pergaulan anaknya sehingga anak merasa bebas karena tidak ada pengawasan orang tua dan berdampak pada pergaulan bebas.
Lemahnya control masayakat, banyak remaja yang melanggar norma-norma yang berlaku dimasyarakat seperti adat dalam berpakaian, tetapi akibat lemahnya control masyarakat mengakibatkan pengabaian terhadap pelanggaran-pelanggaran norma tersebut sehingga remaja yang berpakaian minim sekalipun dihiraukan.
Kurangnya iman dan taqwa, semakin banyak ilmu agamanya maka semakin tau pula ia membedakan nama yang benar, serta nama yang dianggap sopan sesuai dengan budaya Indonesia. Didalam ilmu agama terkandung nilai-nilai keagamaan dan moral yang baik, seperti perempuan yang diwajibkan menutup aurat. Jika ilmu ini didalami oleh setiap orang yang mungkin sedikit atau bahkan tidak aka nada orang yang berpakaian terbuka layaknya budaya barat.
Kualitas pendidikan rendah, semakin tinggi kualitas pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula cara ia berpikir sehingga ia dapat memilah mana yang baik atau sesuai dengan mana yang kurang baik atau kurang sesuai. Semakin berpendidika seseorang, maka semakin ia menyadari bahwa ia harus memegang teguh budaya yang tercipta oleh Indonesia termasuk kesopanan dalam berpakaian.

Solusi atau cara mengatasi pengaruh budaya barat atau budaya asing yang bersifat negatif :
1) Remaja seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan          menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh budaya timur kita.
2) Para orang tua sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada anaknya,dan berusaha menjadi teman untu anaknya sehingga dapat memberikan saran kepada anak dan anak pasti akan merasa lebih dekat kepada orang tuanya dan kan mengingat saran dari orang tuanya tersebut.
3) Pemeritah lebih tegas terhadap peraturan, khususnya penyimpangan perilaku akibat pengaruh budaya asing.


4) Masyarkat hendaknya membantu pemerintah, dalam menaggulangi perkembangan budaya barat atau budaya asing yang bersifat negatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Microsoft Azure

Shared - Memory Multiprocessors

Pengaruh Kondisi Geografis Terhadap Pembentukan Budaya Banten